RESUME PEMATERI MY DIGITAL PORTOFOLIO PKKMB DAY 2
Materi IV
Pak Ainun Najib
Tema : Perguruan tinggi di era digital dan revolusi industri
Saat ini kita sedang memasuki era digital dan revolusi industri baru yang ditandai dengan hadirnya Artificial Intelligence (AI). Kehadiran AI sering disamakan dengan penemuan listrik pada masa lalu karena dampaknya yang sangat besar, masif, dan menjadi katalis berbagai inovasi di kehidupan manusia. AI mampu mengolah data dalam jumlah yang sangat besar, menganalisis pola, serta membantu pekerjaan manusia dengan cepat dan efisien. Namun, ada dua kemampuan mendasar yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh AI, yaitu kreativitas dan nilai kemanusiaan. Kreativitas adalah kemampuan berpikir strategis, menemukan ide baru, serta menciptakan sesuatu yang belum ada sebelumnya. Sementara nilai kemanusiaan atau empati adalah kemampuan memahami, merasakan, dan memberikan respon yang tulus terhadap manusia lain.
Dalam konteks dunia kerja, kedua aspek ini menjadi kunci. Bidang yang tidak membutuhkan kreativitas maupun empati, seperti logistik dan pergudangan, hampir dipastikan akan sepenuhnya diotomasi oleh AI. Bidang yang membutuhkan empati namun tidak menuntut banyak kreativitas, seperti kesehatan dan pendidikan, tetap sangat memerlukan manusia meski AI dapat membantu dari sisi teknis. Sementara itu, bidang yang menekankan kreativitas tetapi minim empati, seperti desain dan arsitektur, sebagian prosesnya akan diambil alih oleh AI, meskipun ide kreatif tetap berasal dari manusia. Bidang yang paling aman dan menjanjikan untuk masa depan adalah bidang yang menuntut keduanya sekaligus: kreativitas dan empati. Contoh nyata adalah kepemimpinan, manajemen organisasi, serta pengambilan keputusan strategis, karena bidang ini memerlukan kecerdikan berpikir sekaligus kepekaan dalam memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan.
Oleh karena itu, sebagai mahasiswa baru yang akan menapaki perjalanan panjang di dunia akademik dan profesi, sangat penting untuk menyiapkan diri menghadapi era AI dengan membangun kemampuan berpikir kreatif sekaligus menjaga nilai kemanusiaan. Dua bekal inilah yang akan menjadi pembeda antara manusia dengan mesin, sekaligus menjadi kunci agar teknologi dapat menjadi alat yang membantu, bukan ancaman bagi masa depan kita.
Materi V
Prof. Dr. Haryono Umar, SE., Ak., M.Sc., CA
Tema :Generasi Muda Berintegritas Anti Korupsi
Pidato ini menekankan pentingnya kesadaran mahasiswa UNUSA bahwa menuntut ilmu adalah rahmat besar dari Allah SWT, sehingga orientasinya harus diniatkan untuk mencari ridha Allah, bukan sekadar mengejar dunia. Jika ilmu hanya digunakan untuk mengejar harta dan kekuasaan, hal itu dapat menjerumuskan pada korupsi. Korupsi dijelaskan sebagai pengkhianatan terhadap amanah rakyat yang berdampak luas, mulai dari berkurangnya anggaran pembangunan, rusaknya hukum, turunnya kualitas sumber daya manusia, hingga hancurnya keadilan, pasar, dan lingkungan hidup. Bahkan korupsi melahirkan tindak pidana lain seperti pencucian uang. Dalam konteks demokrasi, korupsi juga merusak proses politik karena calon pemimpin yang dipilih sering kali bukan karena kapasitasnya, melainkan karena praktik uang.
Disampaikan pula bahwa karakter bangsa Indonesia dahulu kokoh karena pejuang kemerdekaan memiliki orientasi akhirat dan cinta pada Tuhan, sehingga rela berkorban demi bangsa. Sebaliknya, koruptor modern justru cinta dunia dan hanya mementingkan diri sendiri. Oleh karena itu, mahasiswa diingatkan untuk membangun karakter integritas sejak dini. Integritas bukan hanya soal kepintaran, tetapi lebih pada kejujuran, disiplin, rasa malu, tanggung jawab, kepedulian, dan keberanian. Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat kekurangan orang jujur. Integritas harus menjadi fondasi utama dalam setiap profesi, termasuk sebagai perawat, bidan, guru, atau pemimpin, agar tugas dijalankan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah dan pelayanan kepada manusia.
Korupsi dipaparkan memiliki berbagai bentuk, seperti suap, pemerasan, gratifikasi, perbuatan curang, konflik kepentingan, hingga menghalangi proses hukum. Data menunjukkan bahwa sekitar 20–30% anggaran negara masih bocor karena korupsi, yang merata di pusat maupun daerah, serta melibatkan berbagai kalangan tanpa memandang agama maupun asal daerah. Hal ini menunjukkan bahwa korupsi sudah menjadi penyakit bangsa yang sangat serius. Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya dengan penindakan, tetapi juga pendidikan dan pembinaan karakter anti korupsi. Ada sembilan nilai utama anti korupsi yang perlu ditanamkan, yaitu jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, adil, berani, sederhana, dan kerja keras. Dari sembilan itu, kejujuran menjadi nilai paling utama.
Akhirnya, mahasiswa UNUSA diharapkan menjadi generasi Rabbani, yaitu generasi yang cerdas, terampil, tetapi juga berintegritas dan berorientasi akhirat. Ilmu yang dipelajari harus dipahami sebagai jalan menuju Allah, sehingga dapat digunakan untuk pengabdian kepada bangsa, rakyat, dan umat manusia. Jika mahasiswa mampu menanamkan integritas sejak di bangku kuliah, maka mereka akan tumbuh menjadi pemimpin dan profesional yang dapat membawa bangsa Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah, adil, dan bermartabat, baik di dunia maupun di akhirat.
Materi VI
KH Ma'ruf Khozin - PWNU Jatim
Tema :Mencetak Mahasiswa Unusa sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah
Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang berpegang pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Salah satu ciri khas NU adalah bermazhab, yaitu mengikuti salah satu dari empat mazhab fikih yang telah diakui umat Islam, seperti Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Dalam hal akidah, NU mengikuti ajaran Imam Abu Hasan Al-Asy’ari yang menekankan keseimbangan antara dalil naqli dan aqli. Sikap yang menjadi pedoman warga NU adalah tawasuth (bersikap moderat, tidak ekstrem kanan maupun kiri), tawazun (seimbang dalam menyikapi berbagai hal), tasamuh (toleransi terhadap perbedaan), serta i’tidal (tegak lurus dan adil). Nilai-nilai ini menjadikan NU mampu berdiri di tengah masyarakat yang majemuk, tidak hanya menjaga hubungan harmonis antar sesama muslim, tetapi juga menjalin toleransi dengan non-muslim.
Tradisi keagamaan yang diamalkan warga NU seperti qunut dalam salat subuh, tahlilan, ziarah kubur, hingga pembacaan sholawat memiliki dasar yang kuat dari ulama, hadis, maupun riwayat sahabat. Amaliah tersebut bukan sekadar ritual, melainkan menjadi sarana penguatan iman, mempererat ukhuwah, serta menjaga warisan keilmuan para ulama terdahulu. Selain aspek keagamaan, NU juga menempatkan nasionalisme sebagai bagian penting dari ajaran Islam. Prinsip hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman) diajarkan oleh para ulama NU, dan terbukti menggerakkan santri serta kiai untuk berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan, seperti peristiwa resolusi jihad 10 November 1945.
Dengan demikian, NU tidak hanya berfungsi sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai penjaga tradisi, pengayom masyarakat, serta pilar kebangsaan. NU mengajarkan bahwa keberislaman tidak dapat dipisahkan dari kecintaan terhadap tanah air dan tanggung jawab sosial. Ajaran moderasi, toleransi, dan keseimbangan yang ditanamkan menjadikan NU relevan di tengah perubahan zaman, sehingga tetap mampu membimbing umat menuju kehidupan beragama yang damai sekaligus menjaga keutuhan bangsa Indonesia.
link teman :https://shasykirani.blogspot.com/2025/09/future-ready-mindset-menjadi-generasi.html?m=1

Komentar
Posting Komentar